LAMPUNG BARAT — Pemulihan hutan di kawasan Sekincau, Kabupaten Lampung Barat, tak hanya diarahkan untuk memperbaiki ekosistem yang rusak, tetapi juga membuka peluang penghasilan tambahan bagi masyarakat di sekitarnya.
Melalui Program Pemulihan Ekosistem, PT Star Energy Geothermal Suoh Sekincau (SEGSS) bekerja sama dengan Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (BBTNBBS) melibatkan masyarakat dalam kegiatan penanaman dan perawatan pohon. Program ini diharapkan menjadi langkah konkret untuk menjaga kelestarian hutan sekaligus memperkuat ekonomi warga.
Bagi masyarakat yang sebagian besar menggantungkan hidup pada perkebunan kopi, keterlibatan dalam pemulihan hutan menjadi peluang untuk memperoleh pendapatan tambahan, terutama ketika aktivitas di kebun berkurang setelah musim panen berakhir.
Sugeng, warga Srimenanti, mengaku pekerjaan dalam program tersebut cukup membantu memenuhi kebutuhan hidup sekaligus menyisihkan penghasilan untuk masa depan.
“Setelah musim panen kopi selesai, pekerjaan di kebun berkurang. Karena itu, kesempatan ini sangat membantu menambah penghasilan. Sebagian saya tabung untuk persiapan berumah tangga dan sebagian lagi untuk membantu kebutuhan orang tua,” kata Sugeng, Minggu (18/10/2026).
Selama puluhan tahun, kopi menjadi salah satu sumber penghidupan utama masyarakat Sekincau. Sebagian warga bahkan telah mengusahakan kebun kopi sejak 1970-an, jauh sebelum kawasan Bukit Barisan Selatan ditetapkan sebagai taman nasional.
Di sisi lain, kawasan hutan tersebut memiliki fungsi ekologis penting, mulai dari menjaga ketersediaan sumber air hingga menjadi habitat berbagai satwa liar, termasuk harimau dan gajah Sumatra. Karena itu, pemulihan hutan membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada lingkungan, tetapi juga memperhatikan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat sekitar.
Manfaat program tersebut turut dirasakan Zainal Abidin, Ketua Kelompok Tani Maju Berkarya Srimenanti. Ia mengajak warga setempat terlibat dalam kegiatan penanaman dan perawatan tanaman agar manfaat program dapat dirasakan secara lebih luas.
“Kesempatan ini membawa berkah, terutama setelah musim panen selesai. Penghasilan tambahan ini membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga, termasuk kebutuhan dapur dan uang jajan anak sekolah. Kami juga mendapat pengalaman baru dalam merawat tanaman,” ujar Zainal.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat berlangsung secara berkelanjutan dan membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi kelompok tani. Salah satu harapannya ialah pengembangan tanaman buah yang berpotensi memberikan manfaat bagi masyarakat pada masa mendatang.
Peluang itu sejalan dengan penjajakan kerja sama antara Star Energy Geothermal, BBTNBBS, dan masyarakat. Ke depan, kelompok tani berpotensi dilibatkan sebagai mitra dalam penyediaan bibit, penanaman, hingga pemeliharaan tanaman.
Salah satu pendekatan yang tengah dikaji adalah memadukan pohon hutan asli dengan jenis tanaman bernilai ekonomi, seperti petai, jengkol, dan durian. Namun, penerapannya tetap harus mempertimbangkan kesesuaian lahan, kebutuhan pemulihan ekosistem, serta ketentuan yang berlaku di kawasan taman nasional.
Rencana tersebut masih dalam tahap penjajakan. Para pihak terkait terus mengkaji pola kerja sama yang tepat agar kegiatan pemulihan hutan dapat berjalan optimal tanpa mengabaikan fungsi konservasi kawasan.
Head of Social Investment, Policy and Communications PT Star Energy Geothermal, Laksmi Prasvita, menegaskan bahwa keberhasilan pemulihan hutan tidak cukup diukur dari jumlah pohon yang ditanam, tetapi juga dari keberlanjutan perawatan hingga tanaman tumbuh dan mampu mendukung pemulihan ekosistem.
“Bagi kami, keberhasilan pemulihan hutan bukan hanya soal berapa banyak pohon yang ditanam, tetapi bagaimana pohon-pohon tersebut dapat tumbuh dan dijaga dalam jangka panjang. Kami ingin masyarakat ikut mengambil peran, sekaligus menjajaki peluang agar kegiatan menjaga hutan juga memberikan manfaat bagi kehidupan mereka,” ujar Laksmi.
Sepanjang 2026, Star Energy Geothermal menargetkan pemulihan hutan seluas 60 hektare. Dari target tersebut, penanaman telah dilakukan di area seluas 10 hektare dengan jumlah 9.300 pohon asli.
Program itu direncanakan berlanjut pada 2027 melalui penambahan area pemulihan seluas 50 hektare. Dengan demikian, total komitmen pemulihan hutan yang direncanakan mencapai 110 hektare selama tahap eksplorasi.
Sejumlah jenis pohon asli ditanam, antara lain pulai, damar, meranti, medang, dan merawan. Pemilihan tanaman dilakukan berdasarkan kajian lingkungan serta arahan teknis BBTNBBS untuk mendukung pemulihan fungsi ekologis kawasan.
Penanaman tersebut merupakan tahap awal dari proses pemulihan hutan yang membutuhkan waktu panjang. Perawatan dan pemantauan secara berkala menjadi bagian penting untuk memastikan pohon dapat tumbuh dengan baik dan memberikan manfaat ekologis.
Upaya ini diharapkan dapat membantu memperbaiki kondisi lingkungan, menjaga sumber air, serta memulihkan keterhubungan kawasan hutan agar kembali mendukung kehidupan berbagai jenis tumbuhan dan satwa.
Keterlibatan BBTNBBS, kelompok tani, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan program. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menyelaraskan kepentingan konservasi dengan kebutuhan ekonomi warga tanpa mengurangi fungsi utama kawasan hutan.
Bagi masyarakat seperti Sugeng dan Zainal, pemulihan hutan kini bukan sekadar kegiatan menanam pohon. Program tersebut juga menghadirkan peluang memperoleh penghasilan tambahan di tengah ketergantungan pada hasil perkebunan kopi.
Pada akhirnya, keberhasilan pemulihan hutan Sekincau tidak hanya ditentukan oleh banyaknya pohon yang ditanam, tetapi juga oleh kemampuan semua pihak menjaga keberlangsungannya. Ketika upaya konservasi berjalan beriringan dengan manfaat nyata bagi masyarakat, pemulihan hutan diharapkan dapat memberikan dampak yang lebih luas bagi lingkungan dan kehidupan warga. (Sony)
![]()













